Anggaran Kunjungan Kerja DKI 54 Miliar, Seharusnya Sandiaga Malu Dengan Ahok

Setelah Anies-Sandi menjabat, perlahan tapi pasti terlihat jelas beberapa perubahan, bahkan di antaranya perubahan yang sangat drastis. Bahkan kita bisa akui kalau perubahan tersebut mengarah mundur, bukan menjadi lebih baik. Inikah yang sebenarnya kita inginkan? Apakah ini yang diinginkan oleh para JKT58 yang memilih mereka, yang sebagian di antaranya mengambil sikap masa bodoh dengan prestasi dan rekam jejak, yang penting seiman? Sungguh sebuah pemikiran sempit yang membawa kemunduran bagi bangsa ini.

Beberapa minggu ini saya vakum menulis karena liburan ke Vietnam. Dan jujur, setelah melihat perkembangan pembangunan di sana, saya malu sekaligus prihatin karena persis seperti yang pernah dikatakan Pak Jokowi, negara tersebut akan segera menyalip Indonesia. Lucu bukan? Ditambah lagi dengan pola pikir kolot dan konyol sebagian pemilih dalam memilih pemimpin, prihatin akan menjadi kata yang sangat tepat.

Oke kita kembali ke Anies-Sandi. Anggaran kunker (kunjungan kerja) bagi staf dan pejabat DKI Jakara tahun ini kembali menarik perhatian publik. Bagaimana tidak, anggaran kali ini naik mencapai Rp 54,5 miliar. Sebagai perbandingan dibanding tahun lalu, anggaran kunker pada tahub 2016 mencapai Rp 22 miliar sedangkan pada tahun 2017 mencapai Rp 35 miliar.

Memang sih, wajar-wajar saja kalau ada kenaikan, tapi melihat kinerja Anies-Sandi yang bikin kita geleng-geleng kepala, tentu kita berhak mempertanyakan hal seperti ini. Lihat saja kunker Anies-Sandi ke sejumlah negara, apa yang dihasilkan? Apa manfaat yang dibawa untuk kota Jakarta? Apa yang terlihat? Mereka ke sejumlah negara katanya untuk mengelola Jakarta, tapi apa hasil yang bisa kita lihat? Sama saja seperti dulu.

Sandiaga Uno mengatakan angka ini sudah dianggarkan sebelum Anies-Sandi menjabat. Seperti yang tadi saya katakan, nggak masalah kalau ada kenaikan anggaran. Anies pernah melakukan kunker ke Maroko, Turki dan USA. Sandi juga pernah melakukan kunker ke Jepang, Uni Emirat Arab, USA dan akan ke Rusia dalam waktu dekat. Saya tak tahu hasil apa yang mereka bawa ke Indonesia, biar pembaca saja yang menjawab.

“Kalau dilihat sekarang bersama dengan Pak Anies, penyerapan kami cenderung masih sangat rendah,” kata Sandiaga. Dia mengatakan, kunjungan kerja yang dilakukan Pemprov DKI ini dimaksudkan agar Jakarta bias tampil internasional. Dia juga menjamin anggaran yang digunakan dipastikan efektif.

Serapan anggaran Pemprov DKI Jakarta yang rendah dijadikan alasan kenapa anggaran kunker ini dianggap sebagai hal yang lumrah. Padahal dulu saat Ahok masih menjabat sebagai gubernur, serapan anggaran yang rendah dicibir dan diejek. Dan sekarang serapan anggaran zaman Anies-Sandi yang rendah, apa komentarnya?

Selain itu Anies-Sandi harusnya malu dengan Ahok yang kurang suka melakukan kunker keluar negeri. Dia pernah menolak undangan dari PBB untuk datang ke New York, Amerika Serikat. Dia lebih memilih untuk tetap di Jakarta mengerjakan tugasnya sebagai Gubernur. “Kenapa saya enggak suka kunjungan ke luar negeri, ke luar kota, atau ke manapun?” Kata Ahok. Dia diminta untuk memberikan sambutan selama 10 menit. Sementara itu butuh waktu tiga hari untuk memenuhi agenda itu.

“Kalau saya ke luar negeri, kemarin diundang ke New York, di PBB katanya, bicara 10 menit. Tapi butuh tiga hari. Ngapain aku bicara 10 menit butuh tiga hari?” kata Ahok. Karena itulah dia tak menghadiri acara PBB itu, melainkan hanya mengirimkan utusan ke sana.

“Mendingan suruh orang bicara, aku kasih tahu. Atau diundang ke Singapura beberapa kali. Saya mending kirim Pak Oswar (Deputi Gubernur DKI Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup) atau Bu Tuty (Kepala Bappeda). Mereka sudah mengerti apa yang mau saya omongkan,” kata Ahok.

Ahok sering menolak memenuhi undangan seperti itu karena pertimbangan waktu kerja di Jakarta. Dia merasa pekerjaannya bakal menumpuk bila ditinggal tiga hari atau dua hari. Bahkan waktu libur pun diisi Ahok dengan aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaannya. “Kalau saya pergi, saya habis dua hari, kerjaan saya menumpuk tidak? Menumpuk,” kata Ahok.

Ahok jarang ke luar negeri, tapi hasil kerjanya sangat fantastis. Yang penting bekerja demi Jakarta, maka hasilnya akan baik pula. Tak perlu keluar negeri untuk studi banding tapi hasilnya lebih baik dari Anies-Sandi. Mereka kunker, entah apa yang dipelajari, hasilnya begini-begini juga.

Bagaimana menurut Anda?

%d blogger menyukai ini: