Cacat! DKI Minta Menkominfo dan Menhub Bunuh Aplikasi Ojek Online

Memang bodoh sebodoh-bodohnya. DKI meminta kemenhub dan kemenkominfo untuk mematikan aplikasi ojek online. Mereka bukan ingin memajukan warganya, namun malah membuat warganya mundur. Tidak jelas sekali. Alasannya sangat tidak jelas. Alasannya bodoh. Alasannya culas. Apa alasanya?

Alasannya adalah demi penertiban. Penertiban? Bukankah yang seharusnya ditertibkan adalah PKL di Tanah Abang? Bukankah yang harus ditertibkan adalah anggota TGUPP yang tidak jelas pekerjaannya? Bukankah yang harus ditertibkan adalah sampah-sampah yang menumpuk di kolong tol Tanjung Priok?

Bukankah yang harusnya dibersihkan adalah cara pikir dari Anies Baswedan yang dalam ketidak becusannya, merusak DKI Jakarta? Bukankah yang seharusnya ditertibkan adalah tata kelola kota, yang hancur lebur tidak karuan?

Penertiban macam apa yang menjadi ekspektasi? Mari kita lihat apa yang dikatakan Andri Yansyah, bawahan Anies yang diberi jabatan Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Kadishubtrans) DKI Jakarta itu.


Kami meminta agar Kemenhub berkoodrinasi dengan Kemenkominfo untuk mematikan aplikasi ojek online yang terkena penertiban. Itu satu satunya cara untuk menertibkan ojek online

Peningkatan layanan angkutan umum merupakan harga mati untuk mengatasi perkembangan ojek online ataupun angkutan online roda empat

Kata Andri Yansyah, Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Kadishubtrans) DKI Jakarta.


Bicara tentang penertiban, penertiban harus dilakukan sama rata dan sama rasa. Jika ojek online yang melanggar terancam dibubarkan, mengapa angkot yang ngetem sembarangan tidak dibubarkan? Apakah ini namanya keberpihakan?

Ini adalah keberpihakan yang bodoh. Keberpihakan yang pekok. Kalau mau adil, tindak semuanya, jangan pilih-pilih.

Memang DKI cerdas dalam menarik hati para supir-supir angkot yang dimanja. Ketua organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan juga menikmati apa yang menjadi strategi pemprov DKI Jakarta yang akan menghancurkan aplikasi ojek online.


Ini dampak dari ketidaktegasan pemerintah. Bahaya kalau terus dibiarkan akan lebih sulit seperti yang terjadi saat ini untuk mengatasinya

Ojek dulu itu di lingkungan, setelah jadi online malah liar kemana-mana dan bahkan mematikan mikrolet dan bajaj. kami tidak permasalahan aplikasi-nya, tapi roda duanya

Ini dampak dari ketidaktegasan pemerintah. Bahaya kalau terus dibiarkan akan lebih sulit seperti yang terjadi saat ini untuk mengatasinya

Ucap Ketua Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan


Lihatkah para pembaca Seword, bahwa Anies Sandi sedang melanggar apa yang menjadi janjinya. Ia tidak memberikan “Maju kotanya, bahagia warganya”. Melanggar janji adalah dosa besar. Melanggar janji itu bisa diganjar oleh Tuhan.

Memang penulis mendadak merindukan Ahok, dengan segala aturan yang tidak dibuat-buat dan dilebih-lebihkan. Tidak seperti Anies Sandi yang membuat peraturan, demi mengenyangkan perut mereka, memperkaya diri mereka, dengan cara mengosongkan otak para warganya.

Warga Jakarta yang sejumlah 58 persen itu lama kelamaan sudah mulai muak dan sudah jijik dengan kebijakan bodoh yang dilakukan pemprov DKI Jakarta.

Anies yang sedang bermimpi menjadi presiden-presidenan itu, akan merusak hari depan Indonesia. Manusia yang tidak jelas ini, merusak Jakarta dengan setiap kebijakan yang tidak bijak sama sekali. Ini adalah sebuah bentuk pembodohan terhadap publik.

Melanggar janji, itu bersalah kepada manusia dan Tuhan. Penulis rindu dengan Ahok. Ia memang banyak bicara, namun apa yang ia katakan, tidak merupakan bualan. Ia meneriakkan sebuah kalimat yang melampaui waktu.

Ahok berbicara dengan kekuasaan, bukan untuk kekuasaan itu sendiri. Ia berkata dengan kekuasaan, untuk kepentingan banyak orang. Ahok benar-benar memahami apa yang ia katakan, tidak muluk-muluk dan ia adalah seorang yang mampu menguasai dirinya. Sedangkan Anies?

Anies berbicara dengan santun, dan kesantunannya digunakan untuk kekuasaannya sendiri. Ia berkata dengan lembut, untuk kepentingan dirinya sendiri. Anies tidak memahami apa yang ia katakan, ia muluk-muluk. Dan ia tidak mampu menguasai dirinya.

Dalam hal ini Ahok benar dan Ahok jauh melampaui Anies. Perbedaan mereka adalah ibarat langit dan bumi, jika tidak ingin dikatakan surga dan neraka.

Saat program Anies Sandi yang digadang-gadang sebenarnya sudah ketinggalan jaman dan tidak lagi sanggup bersaing, mereka akan cenderung pakai kekuasaan untuk mematikan yang besar dengan kekuasaan. Power tends to corrupt. Absolute power, corrupts absolutely. Welcome to Jakarta!

Begitulah cacat-cacat.