Dikalahkan oleh Rasisme dan Isu SARA!

Hari ini, adalah akhir dari seluruh rangkaian panjang perjuangan untuk memenangkan hati rakyat Sumatera Utara. Baik Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Edy-Ijeck), maupun Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djarot-Sihar) telah bekerja semaksimal mungkin untuk memperkenalkan diri serta program-program yang mereka tawarkan.

Lebih dari 9 juta pemilih di seluruh wilayah Sumatera Utara (Sumut), hari ini menyalurkan hak politiknya dengan mencoblos calon gubernur/wakil gubernur pilihan mereka di bilik-bilik suara di 27.478 TPS. Semua berharap yang terbaik. Semua pemilih ingin calonnya menang. Itu adalah sebuah kewajaran dalam sebuah kompetisi seperti Pilkada.

Sebelumnya, serangan bertubi-tubi berbau SARA terhadap pasangan Djarot-Sihar begitu gencar dilakukan. Pasangan calon nomor urut 1, Edy-Ijeck, beserta seluruh timnya, begitu kencang menyerang Djarot-Sihar dengan memainkan isu primordialisme serta isu agama. Baik di dunia nyata, terlebih-lebih di dunia media sosial.
Sejatinya, dalam menjalani sebuah proses kampanye, para calon kepada daerah dituntut untuk melakukannya dengan cara-cara yang beradab, dengan cara-cara yang senantiasa mengedepankan nilai-nilai keindonesiaan dan senantiasa berpegang teguh pada norma-norma yang ada di masyarakat serta rambu-rambu Pilkada yang telah ditentukan.

Para calon semestinya mendatangi rakyat tanpa ada embel-embel lain, kecuali hanya menyampaikan berbagai program unggulan yang mereka tawarkan jika kelak dipercaya untuk duduk menjadi kepala daerah, serta menunjukkan ketulusan serta keinginan hati mereka untuk membangun daerah yang kelak akan mereka pimpin menjadi lebih baik.

Namun apa yang terjadi di Sumut, Edy-Ijeck lebih cenderung memainkan politik identitas. Kita tidak tahu apakah Edy-Ijeck merasa tidak mampu jika harus beradu program dengan Djarot-Sihar, atau mungkin Edy-Ijeck menganggap lebih nyaman dan lebih mudah berkampanye dengan menyerang lawan dengan isu SARA.

Sebutan calon gubernur impor merupakan serangan awal bernada rasis yang ditujukan kepada cagub nomor urut 2, Djarot Saiful Hidayat. Djarot yang berasal dari Jawa, oleh para pendukung Edy-Ijeck dianggap tidak pantas memimpin Sumatera Utara karena Djarot bukanlah putra Sumut. Djarot dinilai sebagai seorang pengacau di Sumut.

Setelah mengalami kekalahan di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu bersama Ahok, lalu oleh PDIP dicalonkan kembali menjadi calon gubernur di Sumatera Utara, dianggap oleh para pendukung Edy Rahmayadi sebagai sebuah keputusan yang kurang tepat. Sehingga mereka menyebut Djarot sebagai seorang politikus pencari kerja.

Sementara tujuan utama PDIP mengusung Djarot-Sihar di Sumut semata-mata adalah karena kecintaan PDIP terhadap Sumut. Djarot yang dikenal sebagai seorang politikus yang berpengalaman, jujur, dan bersih, oleh PDIP dinilai sebagai solusi terbaik untuk menata dan memperbaiki Sumut. Di mana dua gubernurnya terdahulu dibui karena terjerat kasus korupsi.

Namun, begitulah politik. Jika ada di tangan orang jujur dan bersih, maka politik itu akan jujur dan bersih pula, dan sebaliknya, jika ada di tangan orang jahat dan kotor, maka politik itu akan jahat dan kotor. Yang terjadi di Sumut adalah politik jahat dan kotor. Emosi masyarakat dibakar oleh para elite dengan isu-isu primordialisme.

Pernyataan Edy bahwa Djarot sebagai pencari kerja di Sumut, sangat berpengaruh besar mengubah pola pikir warga Sumut. Edy sepertinya sengaja mengeluarkan pernyataannya itu untuk membentuk opini publik. Lalu publik menjudge Djarot sebagai pelamar kerja tanpa mencermati program-program berkualitas yang ia tawarkan.

Dan,Djarot bukan orang Sumut, Djarot pemimpin impor,secara terus-menerus digelorakan oleh Edy-Ijeck sepanjang masa kampanye. Begitupun dalam tiga kali debat yang dilaksanakan oleh KPUD Sumut, Edy Rahmayadi berulang kali menyampaikan bahwa Sumut selayaknyalah dipimpin oleh orang Sumut juga.

Hingga seorang mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, juga turut menyerang Djarot dengan isu primordialisme. Pangkat empat bintang yang pernah melekat di pundaknya, ternyata tidak lantas menjadi sebuah jaminan untuk membuatnya menjadi seorang yang memiliki nasionalisme yang tinggi, yang senantiasa menjunjung tinggi kebhinnekaan.

Dalam sebuah orasinya di Sumut untuk mendukung Edy-Ijeck beberapa waktu lalu, Gatot mengajak ribuan massa yang hadir untuk memilih pemimpin asal Sumut. Gatot menyebut, tidak memilih pemimpin asal Sumut merupakan penghinaan terhadap warga Sumut. Sebab menurutnya, orang Sumut minum air Sumut yang kemudian menjadi darah, makan makanan Sumut yang kemudian menjadi daging.

Selain diserang dengan isu primordialisme, Djarot-Sihar juga diserang dengan isu agama. PDIP, partai pengusung Djarot-Sihar, dianggap sebagai partai penista agama. Saya tidak tahu, apa alasannya sehingga PDIP disebut sebagai penista agama. Sebutan partai penista agama tersebut, oleh beberapa ulama, termasuk ustaz Abdul Somad, disampaikan secara berulang-ulang.

Sihar Sitorus yang kebetulan beragama Kristen, tidak lepas dari serangan para pendukung Edy-Ijeck. Sihar disebut kafir. Ada sebuah adagium yang mereka buat, jika masih ada kentang dan kambing, jangan pilih kentang dan anjing. Maksudnya, jika masih ada calon yang keduanya muslim, jangan dipilih calon yang agamanya campur-campur.

Dan hari ini, warga Sumut sudah memutuskan. Ketulusan hati, pengalaman, kejujuran, serta kemampuan Djarot-Sihar untuk menjadikan Sumut yang hebat dan bersih, ternyata bukan sebuah ukuran. Sebagian besar warga Sumut lebih terpengaruh oleh isu SARA dan primordialisme yang berhembus begitu kencang.

Berdasarkan hasil perhitungan cepat yang dirilis oleh beberapa lembaga survei, Edy-Ijeck berhasil memenangi Pilkada Sumut. Selamat buat Edy-Ijeck! Selamat buat seluruh warga Sumatera Utara! Saya sarankan, tidak usah terlalu berharap banyak kepada Edy-Ijeck untuk membawa Sumut ke arah yang lebih baik. Mari kita bermimpi lagi.

%d blogger menyukai ini: