Menguak Fakta Kampanye Hitam Gerakan Ganti Presiden 2019

Yel-yel itu diteriakkan Iwan Firdaus dan teman-temannya di sekitar Bundaran HI, Jakarta, pada Minggu, 29 April 2018. Iwan, 51 tahun, adalah orang yang dituakan dalam rombongan pada Car Free Day itu.

Di sebelah Iwan, dua lapak kaos dan topi bertuliskan #2019GantiPresiden digelar di aspal. Mengambil ruang publik dan menjadi salah satu rutinitas mingguan warga Ibu Kota melakukan olahraga pagi hingga tengah hari, mereka sadar bahwa mereka bakal terlihat oleh banyak orang, berdesakan dengan para pedagang lain yang membuka lapak dadakan.

“Ini lapak kami buat menggalang dana sukarela. Keuntungan jualan kaos, kami buat kaos lebih banyak lagi,” kata Iwan bersemangat.

Keikutsertaan Iwan dalam kampanye “2019 Ganti Presiden” itu dilatari “kegelisahannya” menilai kinerja pemerintah presiden Joko Widodo. Menurutnya, baru kali ini ada presiden yang “memperlakukan umat Islam dengan tidak adil.” Ia mencontohkan sesudah Pilkada DKI Jakarta, muncul tindakan pemerintah yang dia sebut sebagai “kriminalisasi ulama.”

“Situ tahu sendiri situasi sekarang. Beras impor, ulama dikriminalisasi, keadilan terhadap umat Islam tidak ada. Kami ini, kan, enggak bodoh-bodoh banget,” katanya.

Kehidupan Iwan jauh dari gerakan politik. Tinggal di Jakarta Utara, sehari-hari Iwan mengurusi bisnis kontainer di pelabuhan. Namun, karena kegelisahannya itu, ia mengajak beberapa teman dan tetangganya untuk ikut dalam gerakan “2019 Ganti Presiden”.

Gayung bersambut. Ketua rukun warga 04 Tugu Utara, Warsito Rahman tempat Iwan tinggal setuju dengan ide itu. Mereka lalu mengajak beberapa warga yang satu ide untuk ikut mengampanyekan gerakan tersebut. Mereka mengumpulkan uang secara sukarela, membuat kaos, lalu menjualnya di CFD Bundaran HI.

“Ini murni karena kami khawatir dengan kondisi bangsa. Pilkada Jakarta ada kegaduhan. Saya rasa sudah pahamlah ente,” kata Warsito.

Orang di Balik Layar

Ide gerakan “2019 Ganti Presiden” pertama kali dilontarkan oleh Mardani Ali Sera, Sekjen Partai Keadilan Sejahtera. Menurutnya, ide itu muncul setelah ia menghadiri acara ‘Indonesia Lawyers Club’ di tvOne, sebuah acara temu wicara yang dipandu Karni Ilyas, yang lebih banyak berisi sensasi ketimbang substansi tapi jadi tontonan warung kopi.

“Setelah melihat banyak pihak dari kubu pemerintah memuji-muji Pak Jokowi, saya katakan. ‘Pak Jokowi bisa dikalahkan.’ Landasannya, elektabilitas dan kinerja yang jauh dari memuaskan. Esoknya #2019GantiPresiden dibuat dan menyebar,” kata Mardani.

Mardani bukan orang baru dalam gerakan semacam ini. Pada Pilkada DKI Jakarta 2017, ia dipercaya sebagai Ketua Tim Sukses calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Kemenangan Anies–Sandiaga tahun lalu tak lepas dari peran Mardani.

Esensi gerakan ini, kata Mardani, lebih pada sebagai “wake up call” bagi umat Islam di Indonesia. Ia memperingatkan bahwa Pemilu 2019 “sudah di depan mata dan saatnya mencari pemimpin yang lebih baik untuk Indonesia.”

“Dan adagium ‘almost everything rise and fall on leadership‘ selalu berlaku. Hampir segalanya naik dan turun karena kepemimpinan. Apakah Indonesia akan jadi negara yang bersinar/terbit? Atau menjadi negara gagal/tenggelam? Ini tergantung siapa presidennya pada 2019,” tulis Mardani lewat pesan singkat.

Selain Mardani, ada pula nama Eggi Sudjana yang menjadi penggagas gerakan ini. Ia bergerak menyebarkan ide ke jaringan agar ada kampanye bersama “2019 Ganti Presiden” di pelbagai daerah.

“Ini muncul begitu saja,” ujar Sudjana. “Memang ide awalnya itu dari Pak Mardani Ali Sera. Saya dan Neno Warisman juga ikut menggagas. Ini sangat cair. Jadi, kalau ada yang bilang mengklaim koordinator umum, itu tidak ada. Tidak ada koordinator di gerakan ini,” katanya, Senin terakhir bulan lalu.

Sudjana menjamin gerakan ini tidak ada kaitan dengan partai atau dukungan untuk calon presiden selain Jokowi. Sampai saat ini, klaimnya, mereka bahkan belum memiliki gambaran calon presiden yang akan didukung.

“Kami ini hanya bilang ganti presiden. Siapa yang mengganti, kami belum tahu,” katanya.

Sudjana juga bukan orang baru dalam gerakan semacam ini. Sebelumnya ia sudah terlibat dalam gerakan ‘Aksi Bela Islam’ lewat serangkaian demonstrasi di panggung Pilkada Jakarta. Ia juga getol membela Rizieq Shihab dalam kasus dugaan chat berkonten pornografi.

Meski Sudjana mengklaim gerakan ini tidak terkait partai politik, tetapi tak bisa dimungkiri bahwa penggagasnya adalah kader Partai Keadilan Sejahtera, yakni Mardani Ali Sera.

Infografik HL #2019GantiPresiden

Persekusi Lagi

Sebagai sebuah gerakan yang cair, “2019 Ganti Presiden” nyaris tak terkontrol. Bahkan para penggagasnya pun tak memiliki kontrol yang bersifat organisatoris pada kelompok ini.

Misalnya, saat kampanye “2019 Ganti Presiden” yang diikuti Iwan Firdaus dan Warsito Rahman di CFD Bundaran HI, ia malah berakhir dengan tindakan intimidatif kepada simpatisan pendukung Jokowi berkaos #DiaSibukKerja, yang saat bersamaan menggelar acara di lokasi yang sama.

Salah satu korbannya adalah Susi Ferawati dan anaknya. Semula ibu ini mengikuti kampanye #DiaSibukKerja dengan berjalan kaki dari Monas ke Bundaran HI. Sampai di sana ia diolok-olok oleh kelompok berbaju #2019GantiPresiden.

“Diolok-olok cebong-lah, nasi bungkus-lah, dasar enggak punya duit-lah. Karena kami pakai kaos tagline #DiaSibukKerja, kami dikatain, ‘Dasar lu kerja mulu, lu kayak babu’,” kata Susi.

Susi melaporkan insiden persekusi itu ke Polda Metro Jaya pada Senin kemarin, 30 April 2018.

Soal insiden itu, Eggi Sudjana menolak jika gerakan “2019 Ganti Presiden” harus bertanggung jawab. Ia menyerahkan proses hukum kepada kepolisian. Sebab, meski sangat cair dan tanpa komando, kataya, sejak awal gerakan ini menolak menggunakan cara-cara yang tidak patut.

“Kami tidak akan melakukan pembelaan terhadap pelaku kemarin di CFD,” kata Sudjana.

Persekusi semacam ini sebelumnya juga marak terjadi pada Pilkada DKI Jakarta. Salah satu korbannya seorang bocah berumur 15 tahun, yang dianggap menghina Rizieq Shihab. Si bocah bahkan dipukul dan ditampar oleh segerombolan orang yang menyebut diri “pembela Rizieq.”

Berdasarkan catatan Safenet, sebuah organisasi pemantau kebebasan berpendapat di internet, sepanjang Januari hingga Mei 2017, ada 87 laporan terkait persekusi. Dari jumlah itu, 66 kasus adalah persekusi, sisanya sebatas dugaan persekusi.

Penyebab persekusi karena perbedaan sikap politik, dan disuburkan oleh sentimen agama dalam Pilkada DKI Jakarta. Kasus penodaan agama yang menjerat Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama menjadi titik mula persekusi itu. Safenet menyebut kasus ini sebagai “The Ahok Effect.”
Meski begitu, persekusi dalam gerakan “2019 Ganti Presiden” belum berpola, tidak seperti kasus sebelumnya yang selalu dimulai dari media sosial.

Kali ini sudah lebih nyata. Dua kelompok langsung bertemu, salah satu menghujat yang lain. Masih kelompok yang sama, yang bertikai pada Pilkada DKI Jakarta, yang pembelahannya dimulai sejak Pilpres 2014 antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo.


Catatan :
Bukan saja di BACKING teroris dan HTI tapi…Jablai gatel ini juga di sponsori oleh para KORUPTOR yg belum ketangkap….WASPADALAH …WASPADALAH