Nah Loh! Sanggupkah Gerakan #2019GantiPresiden Memenuhi Tantangan Dari Ali Ngabalin?

Diakui bahwa gerakan tagar #2019GantiPresiden masih ada, masih belum surut. Terutama dari kalangan kader partai politik penggagasnya, dan di dalam warga masyarakat yang punya prinsip “Asal Bukan Jokowi”. Apakah gerakan tagar itu masih bergema di kalangan masyarakat lainnya? Nggak juga, terbukti bahwa di dalam hasil hitung cepat Pilkada Serentak yang baru lalu, pasangan calon yang ikut berkampanye mengusung tagar gerakan #2019GantiPresiden malah tidak mendapat dukungan mayoritas masyarakat. Bahkan di daerah Jawa Barat yang sejatinya adalah lumbung suara PKS, partai politik penggagas gerakan #2019GantiPresiden, terdapat pergeseran yang cukup signifikan atas dukungan masyarakat terhadap PKS. Dalam hal ini PKS sudah mengakui kemenangan pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum (“Rindu”), setelah menyelesaikan hitungan real count di sana.

Ali Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP), menyoroti hal ini. “Siapa pun yang kampanye pakai tagar itu, pasti tidak dapat simpati rakyat. Terbukti, semua calon kepala daerah di pilkada kemarin yang pakai tagar itu tidak mendapat dukungan pemilih,” ujar Ali Ngabalin. Kenapa masyarakat ternyata tidak terlalu mendukung gerakan tagar #2019GantiPresiden? Menurut Ali Ngabalin, disebabkan oleh tidak cocoknya dengan karakter masyarakat Indonesia dalam berpolitik. “Latar belakang masyarakat Indonesia itu ramah-tamah. Adat Melayu, orang suka yang teduh-teduh, bermoral dan berakhlak, tidak memaksakan sesuatu dengan tagar seperti itu. Yang seperti-seperti itu tidak diterima,” ujar Ali Ngabalin. Gerakan tagar #2019GantiPresiden menurut pengamatan Ali Ngabalin, adalah cara berpolitik yang memberi kesan kepingin banget berkuasa, kebelet berkuasa dan tidak memperhatikan tata krama dalam berpolitik.

Tentu saja Ali Ngabalin nggak asal ngomong, tanpa menawarkan solusi. Nah, ini nih sebuah standarisasi sikap dan perilaku berbangsa dan bernegara yang selalu dapat kita lihat pada semua jajaran pemerintahan di bawah Presiden Jokowi. Dari menteri, tenaga ahli, kepala staf, sampai jenderal Polisi maupun TNI, mereka berbicara selalu berdasarkan fakta dan data. Selalu berbicara yang diarahkan untuk kepentingan warga masyarakat. Selalu berbicara yang isinya mencerdaskan rakyat, memberikan edukasi, memberikan contoh sikap yang baik dan beradab. Kemudian, kalau pun mereka mengeluarkan kritik, itu disertai pula dengan solusi, dengan memberikan pertimbangan second opinion yang fair. Artinya tidak memojokkan, tidak mengecam dengan tujuan menghancurkan, berargumentasi untuk merangkul sesama anak bangsa. Demi apa? Ya demi tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. Prinsip dan cita-cita bangsa sejak kita merdeka.

Jadi yang baik itu yang seperti apa ya? Ali Ngabalin mengajak seluruh warga masyarakat, khususnya yang terlibat dalam dunia politik untuk berpolitik dengan menyesuaikan diri pada karakter bangsa Indonesia. Ali Ngabalin juga mengajak perdebatan ganti atau tidak ganti presiden dialihkan kepada sesuatu yang bersifat programatik, ide dan gagasan demi perubahan masyarakat. “Karena itu, saya mau bilang, berpolitiklah dengan santun, penuh peradaban sesuai masyarakat agamis, memiliki moral dan etika sehingga rakyat itu memberikan dukungan dan simpati kepada anda,” ujar Ali Ngabalin.

Nah, itu bukan omong kosong lho. Lihat sendiri bagaimana reaksi masyarakat ketika mengetahui ada deklarasi gerakan tagar #2019GantiPresiden oleh Neno Warisman cs di depan gerai penganan martabak milik Gibran, putra Presiden Jokowi. Apakah menuai pujian? Apakah menuai dukungan? Apalagi setelah ditanggapi oleh Gibran sendiri dengan cara yang sangat sangat dewasa, dengan penuh humor dan malah menghibur, yakni malahan menjadikan aksi itu sebagai ajang promosi produk martabaknya. Apa reaksi masyarakat? Mereka pun menjadi bersimpati kepada Gibran dan Presiden Jokowi. Mereka melihat sendiri betapa sangat dewasanya anak hasil didikan Presiden Jokowi. Beliau mendidik anak saja hasilnya bagus seperti itu, artinya beliau bisa dipercaya untuk selalu membawa nasib Indonesia ke yang lebih baik. Ini image yang didapat dari reaksi Gibran.

Bagaimana dengan reaksi terhadap aksi deklarasi gerakan #2019GantiPresiden itu sendiri? Ya jadi negatif lah. Neno mengklaim habis-habisan kalau itu bukan gerakan politik, padahal semua juga tahu kalau mengganti presiden itu ya urusan politik dong. Memangnya masyarakat dianggap bodoh semua apa? Sisanya ya jadi bahan tertawaan aja. Dan apa hasil akhir aksi itu? Malah meningkatkan aplaus dan simpati masyarakat terhadap Gibran dan Presiden Jokowi. Yaaah, meleset dong. Kasihan…

(Sekian)