Tren Tidak Sehat di Kalangan YouTuber, Dibayar untuk Jatuhkan Kompetitor

Sejak beberapa tahun belakangan, para selebritas online atau kerap diistilahkan “ influencer”, menjadi salah satu channel bagi pemilik brand atau pengiklan untuk mempromosikan produk atau jasa mereka.

Semakin banyak pengikut (follower) atau pelanggan (subscriber) yang dimiliki seorang influencer, maka pengaruh mereka dianggap semakin besar. Karena itu, bayaran mereka untuk mempromosikan brand pun semakin tinggi.

Lantas, bagaimana jika seorang influencer justru malah menjelek-jelekkan brand tertentu? Hal ini tentu menjadi kekhawatiran bagi para pemilik brand, dan ironisnya dimanfaatkan untuk saling menjatuhkan.

Beberapa brand dikatakan sengaja membayar lebih influencer untuk menjatuhkan brand lain yang merupakan kompetitor mereka. Hal ini diungkap influencer kecantikan, Marlena Stell, lewat video yang diunggah di channel YouTube-nya dengan 1,4 juta subscriber.

Video tersebut kemudian direspons oleh makeup artist (MUA), Kevin James Bennett. Ia membenarkan kompetisi tak sehat sebagaimana yang diuraikan Marlena Stell.

“Ada perusahaan manajemen influencer yang memasang tarif 75.000 hingga 85.000 dollar AS (Rp 1 miliar hingga Rp 1,2 miliar) untuk ulasan negatif tentang produk kompetitor dari brand yang membayar,” kata Kevin James Benett melalui Instagram personalnya.

Menggadaikan idealisme

Secara garis besar, Marlena Stell menjelaskan bahwa kecurangan seperti ini telah terbentuk dari sistem yang oportunis. Brand yang mengeluarkan duit banyak bakal diharumkan namanya oleh para influencer, bahkan bisa mengarahkan opini mereka.

Banyak influencer pun yang menikmati praktik ini. Mereka, kata Marlena Stell, membuat video atau ulasan online semata-mata untuk duit dan rela menggadaikan idealisme.

“Banyak influencer kecantikan yang melakukan pekerjaan ini hanya untuk mengejar popularitas dan uang. Mereka hanya ingin keliling dunia, bukan membagikan cinta terhadap industri kecantikan,” kata dia.

Marlena Stell pun sejatinya memiliki brand kecantikan bernama “Makeup Geek” dan “Marste”. Ia mengaku tak didukung teman-temannya sesama influencer kecantikan karena tak mampu bayar mahal.

Brand kami tak punya duit 60.000 dollar AS (Rp 862 juta) untuk satu video. Itu tarif yang ditawarkan ke kami,” ujarnya dilansir KompasTekno dari The Verge, Jumat (31/8/2018).

Pro-kontra di kalangan influencer

Video sensasional Marlena Stell menimbulkan gejolak di tengah para influencer. Ada yang membenarkan testimoni tersebut, tak sedikit pula yang menyanggah.

“Saya tak pernah mendengar hal seperti ini terjadi, tetapi saya akui kami memang menerima sponsor,” kata seorang influencer kecantikan, James Charles, via akun Twitter personalnya.

Kicauan itu lantas dibalas YouTuber dengan nama “RawBeautyKristi”. Ia setuju dengan James Charles dan bahkan lebih mengutarakan kemarahannya.

Saya benci informasi salah seperti ini. Saya sudah ada di YouTube selama lima tahun dan tak pernah mendengar hal seperti itu. Kalau benar terjadi, pasti jumlahnya sangat sangat sedikit,” ia berdalih.


Seorang influencer lainnya dengan nama “Pretty Pastel Please” mendukung video Marlena Stell sepenuhnya. Ia mengunggah video baru berjudul “GETTING PAID $85,000 FOR A NEGATIVE REVIEW” (mendapat Rp 1,2 miliar untuk ulasan negatif).

Dalam video tersebut, ia mengatakan para brand rela membayar mahal agar influencer mau menjatuhkan kompetitor. Hal ini untuk membangun persepsi di masyarakat bahwa brand tertentu lebih baik dari brand lainnya.

“Mereka (brand A) secara spesifik mengatakan mau membayar lebih jika influencer mau bilang bahwa produk mereka lebih bagus dari produk brand B. Atau jika influencer merekomendasikan brand A ketimbang brand B,” kata dia.

Persaingan yang tak sehat seperti ini agaknya perlu penanganan serius oleh pemerintah melalui regulasi. Bagi masyarakat umum, sebaiknya lebih kritis dan tak gampang percaya oleh ulasan-ulasan jika terlalu membagus-baguskan atau memburuk-burukkan.

%d blogger menyukai ini: