WOW Anggaran Kunjungan Kerja DKI Jakarta Tembus Rp54 M

Gila, hanya untuk urusan study banding yang belum tentu ada hasilnya itu, Pemprov DKI Jakarta menggelontorkan dana sampai Rp54 miliar. Heran, tingginya anggaran kunjungan kerja ke luar negeri katanya agar Jakarta bisa tampil internasional, tapi pedagang dibiarin jualan di jalan. Mbelgedesh kalo nyokap gue bilang.

Para pejabat dan staf DKI Jakarta bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan dalih study banding, rest in peace lah pajak yang gue bayarin tiap tahun. Ini jadi pelajaran yang berharga bagi kita semua, lain kali jangan pilih pejabat yang suka menghambur-hamburkan uang rakyat tanpa tujuan yang jelas.

Anggaran yang sebesar itu digunakan Gabener Anies Baswedan untuk jalan-jalan ke Maroko, Turki dan Amerika Serikat dengan dalih kinjungan kerja.

Sebelas dua belas dengan Gabener, si Wahtambahgabener Sandiaga Uno juga memanfaatkan anggaran sebesar itu untuk jalan-jalan ke Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat dan dalam waktu dekat ini berencana ke Rusia, dengan menggunakan uang negara dengan dalih kunjungan kerja.

Sandiaga Uno bilang bahwa kunjungan kerja yang dilakukan Pemprov DKI dimaksudkan agar Jakarta bisa tampil internasional. Dia pun dengan sangat yakinnya menjamin anggaran yang digunakan dipastikan efektif. Baru 2018 sudah ratusan milyar terbuang sia-sia. Sekali lagi RIP uang pajak ane.

Padahal gambaran atas kunjungan kerja mereka seperti apa rakyat tidak tahu. Harusnya kalau tidak mau dibilang hannya jalan-jalan saja ke luar negri, mereka harus memaparkannnya agerndas kunjungan kerja mereka kepada publik supaya transparan, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukankah begitu?

Sebelumnya si Sandiaga Uno kunjungan kerja ke Jepang katanya untuk belajar cara Jepang ngatur lalu lintas. Pertanyaan saya, hasilnya untuk Jakarta apa? Yang ada justru kemacetan malah tambah parah sejak Wan Abud dan Wan Bango ini jadi Gabener dan Wahgabener.

Lihat saja kondisi saat ini. Pemandangan kota Jakarta apalagi depan Balai Kota Jakarta sudah kayak pasar banyak yang berjualan pakai gerobak.

Jadi sudahlah percuma pakai modus basi Pemprov DKI Jakarta ingin membuat kota Jakarta seperti kota-kota internasional.Itu semua hanya alasan untuk penyelewengan dana daerah DKI Jakarta.

Lalu demi membela diri mereka menghambur-hamburkan uang warga DKI Jakarta, si Wahgabener Gubernur Sandiaga Uno bilang anggaran study banding sebesar Rp 54 miliar itu sudah dianggarkan sebelum dia dan Anies Baswedan menjabat.

“Ketika kami masuk 2017 itu sudah diketuk anggarannya 2018. Dan sudah jadi,” Kata Sandiaga di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta Timur, Rabu (4/7).

Lagi-lagi Ahok jadi kambing hitam. Semua-semua ditimpakan ke Ahok mentang-mentang si mantan pesakitan itu sekarang lagi mendekam dalam bui.

Padahal anggaran APBD disahkan di eranya dia sama Wan Abud. Sudah dipenjara masih saja dituduh. Kenapa ya selalu menyalahkan yang terdahulu, memangnya tidak ada alasan lain ya? Memang yang dipenjara selalu salah.

Seperti biasa jurus bango gaya ngeles mereka, “oh sudah dari pemerintah sebelumnya”, “Oh ini kurang koordinasi”, “Oh ini saya baru tahu, saya kaget”. Basi banget. DKI48 sudah bosan dengan model lawakan yang itu-itu melulu.

Mentang-mentang pejabat sebelumnya dipenjara selalu dan selalu melempar kesalahan ke beliau. Mentang-mentang Ahok dipenjara dan tak bisa menjawab, tuduhan-tuduhan selalu disetting sedemikian rupa dengan modus basi “sudah dianggarkan”.

Objektif saja, dulu saat era pak Ahok beliau selama menjabat jadi Gubernur DKI Jakarta bisa dihitung dengan jari berapa kali kunjungan kerja ke luar negeri. Seingat saya cuma ke Belanda saja dulu konsultasi soal penanganan banjir.

Sedangkan Wan Abud dan Wan Bango baru setahun menjabat kunjungan kerjanya sudah kemana-mana dengan hasil kerja yang tidak jelas juntrungannya itu.

Heran, katanya mau tampil international, tapi pedagang kaki lima dibiarin merajalela di Jakarta, belum lagi dengan wacana konyol soal becak. Itu Tanah Abang tambah semrawut dan kumuh.

Kalau mau kunjungan kerja ata study banding atau apalah, tidak usah jauh-jauh ke luar negeri segala. Cukup sowan ke Mako Brimob Kelapa Dua Depok konsultasi sama koh Ahok bagaimana caranya agar Jakarta bisa lebih baik. Simple kok.

Makanya cari lah yang seiman tidak bisa memimpin tidak apa apa yang penting korupsi, kolusi & nepotismenya tinggi sama. JANGAN MAU DI BODOH-BODOHI dengan agama. karena agama seharusnya menyatukan kita & saling Menghormati dan MENGHARGAI.

intinya rasa toleransi yang TINGGI jangan mau di HASUT ATAS NAMA AGAMA ITU TINDAK BODOH

%d bloggers like this: